Warta Jember

 
 
 
 
 
 
Anda membaca : Peristiwa Geger Penambangan Emas Di Gunung Manggar, Perhutani Tak Berkutik

Geger Penambangan Emas Di Gunung Manggar, Perhutani Tak Berkutik

Para penambang illegal (peni) saat mendulang emas di aliran sungai Curah Macan yang mengalir dari Gunung Manggar. (yn/wj)wartajember.com - Kabar keberadaan butiran emas di Gunung Manggar di Dusun Demangan Desa Kesilir, Kecamatan Wuluhan, Jember sepertinya bukan hanya isu belaka. Pasalnya, semakin banyak warga yang terang-terangan mendulang emas di aliran Curah Macan yang merupakan aliran sungai dari Gunung Manggar. Mereka mengaku tidak takut dengan petugas, karena merasa tidak menambang di area milik Perhutani.

Dari pantauan di lokasi, Terlihat di sepanjang aliran sungai Curah Macan itu banyak sekali warga yang melakukan aksi penambangan. Mulai dari hilir hingga terus ke atas tampak banyak sekali penambang illegal yang mengeruk pasir demi mendapatkan butiran-butiran emas di lokasi tersebut.

Baik dengan peralatan yang sederhana, bahkan ala penambangan mogel  Kalimantan, yang memakai cara dengan mengalirkan pasir di papan seluncur sehingga nantinya pasir yang diyakini banyak mengandung emas saja yang tertinggal. Dari pagi dan siang, bahkan pada malam hari pun mereka terus beraktifitas. Padahal, Selasa pekan lalu (7/5/2013), ada 10 penambang illegal diamankan petugas perhutani dan berlanjut Mapolsek Wuluhan.

Para penambang yang dikenal dengan sebutan Penambang Curah Macan ini yakin tidak akan ditangkap petugas karena mereka menambang bukan di tanah Perhutani. “Ini kan bukan di tanah Perhutani, jadi tidak apa-apa,” ujar Sukatno, warga dari Balung. Pihaknya mengaku, memang menambang usai mendapatkan izin dari masyarakat sekitar selaku pemilik lahan.

Dia mengatakan, jika yang dilakukan dirinya dan ratusan orang lain di sepanjang aliran itu hanyalah mengambil sisa-sisa emas yang luruh dari Gunung Manggar. “Istilahe kami ini leles (mengambil sisa, red). Kalau yang banyak kan di tanah perhutani sana,” jelas pria yang sudah melakukan penambangan sejak tiga hari yang lalu.

Dapat dibayangkan, jika di alirannya saja terhampar butiran emas yang cukup banyak, bagaimana dengan di pusatnya yang ada di Gunung Manggar yang saat ini dikuasai Perhutani. “Jika mau banyak ya diatas sana Mas. Tapi sekarang dijaga ketat,” ujar Halim, warga lainnya menimpali. Karena itu, pihaknya mengaku sebagai orang cilik masak masih harus ditangkap jika hanya mengambil sisa-sisanya saja.

Kepastian adanya butiran emas, disampaikan oleh Millah, warga Desa Tegalsari, Ambulu yang juga ikut menambang di lokasi tersebut. Dia mengaku baru dua hari ini menambang di lokasi itu. “Benar kok ada emasnya, ini buktinya,” ujar Millah sambil menunjukkan bungkusan kecil plastik yang ternyata di dalamnya ada logam putih seperti perak. Dia mengatakan jika emas itu hasil akhir usai diberi air raksa dan tinggal dijual ke toko emas.

Dia bahkan mengaku sudah sempat menjual emas hasil menambang di tempat tersebut di toko emas di Ambulu. Dia mengaku harganya Rp 350 ribu per gram emas yang berhasil ditambangnya. “Karena tidak ada suratnya. Kalau ada suratnya katanya lebih mahal,” ujarnya polos. Oleh karena itu, dirinya mengaku rela meninggalkan pekerjaannya yang berjualan di Pasar Ambulu demi mendapatkan kesempatan mendulang emas di tempat itu.

Sementara itu, Kapolsek Wuluhan AKP Wardoyo Utomo mengakui jika memang ada emas di Gunung Manggar. “Ada (emas, red). Ternyata Wuluhan kaya ya??,” ujar Wardoyo ketika dihubungi. Hal tersebut ditunjukkan dengan semakin membludaknya warga yang menambang di sepanjang aliran air dari Gunung manggar itu. Wardoyo sendiri memang belum tahu secara langsung bentuk emas itu, namun dari informasi beberapa kolega dan anak buahnya memang ada yang tahu langsung adanya emas yang ditambang warga itu.

Pihaknya sendiri juga mengatakan jika banyak warga yang bisa menjual emas itu ke berbagai toko emas di Ambulu dan sekitarnya. Untuk penambang di luar area Perhutani, diakui Wardoyo sejauh ini pihaknya belum bisa berbuat banyak. Tetapi diungkapkan Wardoyo, yang ditambang oleh warga kali ini memang bukan di tanah Perhutani. “Itu ditambang di tanah pengairan. Kan di aliran sungai itu,” ujar Wardoyo.